Senin, 27 Agustus 2012

My First Trip

Aku yakin kalian semua pernah bermimpi ingin menginjakan kaki ke luar negeri. Dan aku pun demikian. Waktu aku kecil, aku ingin sekali ke luar negeri. Ingin merasakan atmosphere kehidupan di sana, mencoba makanan khasnya, mengunjungi tempat-tempat wisata, dan lain-lain. At least  aku bisa berkunjung ke negara tetangga dulu, Singapore atau Malaysia. Who knows?? Terkadang aku mengkhayal kalau seandainya saja sekarang ini aku ada di Singapore, apa yang akan aku lakuin sekarang ya? Pasti aku udah foto mesra sama singa putih yang gagah perkasa, Ikon negara Singapore yang terkenal sentero jagad. Sering aku  ngobrol sama temen-temen kampus, yang ngakunya suka jalan-jalan, tentang mimpi kita ke luar negeri. Tapi sayang temen-temen  hanya omdo alias omong doang. Mereka ingin but no action. Aku mencoba mengajak mereka mewujudkan mimpi, salah satunya dengan membuat paspor terlebih dahulu, tapi mereka dengan entengnya bilang," nanti aja, buat apa sih lo bikin paspor sekarang? bikin paspor pasti mahal. Lagian  bisa nanti-nanti bikinnya. Lo pikirin aja gimana caranya lulus kuliah cepet". Batinku langsung berontak,"Eh, lo pikir dengan gue gak bikin paspor, gue bisa cepet lulus gitu? Please deh, gue telat lulus karena emang tugas akhir gue terlalu susah buat gue selesain. Gak juga sih, emang dasar gue males aja kali ya". Ok, lupakan.

Sering pula aku menatap nanar website salah satu maskapai yang menampilkan iklan tiket promo ke luar negeri. Aku enggak bisa berbuat apa-apa. Secara pada saat itu aku belum punya paspor dan yang aku pikirkan adalah masalah budget. Aku mengira aku harus membawa duit segepok kalau aku mau plesiran ke luar negeri. Sumpah, aku buta sama hal-hal yang berhubungan dengan luar negeri. Kamseupay banget ya gue. Padahal waku itu believe or not Air Asia mengadakan promo Rp 0,- all destination. Oh my God, Gila ga tuh? Tapi kalian tau enggak sih, ternyata bisa saja loh beli tiketnya dulu dan paspornya bisa nyusul. Lagipula tiket promo yang ditawarkan biasanya untuk perjalanan beberapa bulan kemudian. So, It’s okay kalau kita belum punya paspor. Yang penting ketika kita akan berangkat paspor sudah ditangan. Aku memang kurang giat mencari informasi tentang hal ini. Sudahlah. 

Nah, karena aku ini salah satu orang yang suka nekat. Akhirnya, bulan November 2011 pergilah aku ke imigrasi bikin paspor. Setelah 10 hari menunggu dengan 3 kali bolak-balik ke kantor imigrasi, paspor hijau pun jadi juga. Ini karena aku yang norak atau apa sih. Tapi percaya enggak percaya, rasanya setelah bikin paspor itu senengnya luar biasa. Tujuh hari tujuh malam enggak bisa tidur (Ok, yang ini lebay). Tapi serius enggak pake sambel eh enggak pake bohong maksudnya, seneng banget. Padahal aku belum tau mau pergi kemana. Yang penting bikin dulu dah. (baca:  http://backpackeriang.blogspot.com/2012/08/cara-mengurus-paspor-di-bandung.html  )

Sampai suatu hari, tak lama setelah memiliki paspor, Tuhan menjatuhkan mimpi yang sempat kutitipkan ke angkasa. Traveling Abroad. Awalnya hendak mengunjungi Negeri Singa saja. Namun, mbak Claudia Kaunang dengan bukunya yang berjudul 'Rp 2 juta Keliling Thailand, Malaysia, Singapore' cukup memprovokasiku untuk tidak sekedar menginjakan kaki di Singapore. Tapi, Thailand dan Malaysia juga.

Rp 2 juta Keliling Thailand, Malaysia, & Singapura


Hayooo...siapa yang enggak ngiler pengen jalan-jalan? Dengan Rp 2 juta saja sudah bisa melihat 3 negara. Pasti kalian yang belum tahu buku ini enggak percaya begitu saja. Pasti kalian bertanya-tanya masa sih 3 negara cuma Rp 2 juta?!!! Awalnya, aku juga enggak percaya. Karena yang aku tahu ke Singapore saja seenggaknya bawa uang Rp 1 juta, terus 2 negara yang lain? Kemudian aku memberli bukunya dan kalian tahu apa. Aku tertarik dan penasaran untuk mencoba. Mumpung sudah punya paspor, langsung saja aku cari-cari tiket promo dan kebetulan dapat travelmates yang ingin kesana juga. Dengan kesepakatan bersama, kami menentukan tanggal berangkat tanggal 1 Maret 2012 dan pulang 11 Maret 2012. Jadi, kami membeli tiket 3 bulan sebelum keberangkata. Oh iya, Rp 2 juta ini diluar tiket pesawat ya :)

Meskipun dengan panduan buku tersebut dan beberapa sumber lain, tapi aku dan 2 orang travelmates-ku melalui rute berbeda dengan Mbak CK a.k.a Claudia Kaunang. Kalau Mbak CK dengan rute Jakarta-Bangkok dan Singapura-Jakarta. Sedangkan kami justru sebaliknya. Jakarta-Singapura dan Bangkok-Jakarta. Do you know why? Karena pada saat kami membeli tiket, tiket murah yang kami dapat adalah dengan rute seperti itu untuk bulan Maret 2012. Jakarta-Singapura via Tiger Airways Rp 250.000,- dan Bangkok-Jakarta via Air Asia Rp 699.000,- (yang ini lumayan mahal), jadi total tiket PP Rp 250.000,- + Rp 699.000,- = Rp 949.000,- Nah, selain itu kami juga membeli tiket Phuket-Bangkok via Air Asia Rp 300.000,- lumayan murah sih menurutku. Tapi, memang lebih murah naik bus. Hanya saja kami tak ingin berada selama 12 jam di bus. Karena lama perjalanan Phuket ke Bangkok sekitar 12 jam, sedangkan dengan pesawat hanya 1,5 jam (ya iyalah, naik pesawat). Well, total tiket pesawat Rp 250.000,- + Rp 699.000 + Rp 300.000,- = Rp 1.249.000,-

Padahal berangkat 3 bulan kemudian, tapi selama 3 bulan itu juga aku merasa sangat excited. Selain membuat itinerary, aku juga harus meyelesaikan tugas akhirku. Pokoknya aku usahain gimana caranya aku bisa sidang di bulan Januari. Kalau tidak, bisa gagal rencana trip pertamaku. Tapi aku yakin, Tuhan menjawab mimpiku. Alhamdulillah, tepat akhir Februari semua urusan kelulusan dan wisuda sudah beres. Thanks God!!!

Tiket pp sudah ditangan, itinerary sudah fix, packing sudah beres, dan ransel sudah siap. Yes, mimpi itu benar-benar terwujud untuk pertama kalinya. It was my first amazing trips to abroad ever.





Cara Mengurus Paspor di Bandung


"Finally, I have had a passport, yeaaay!! Alhamdulillah."

Norak sih kedengerannya. Baru punya passport aja udah kayak dicium sama Taylor Lautner. Tau lo siapa dia? Pasti taulah. Hari gini gak tau sama Taylor Lautner? Helloooo, kemana aja sih lo? Pasti gak pernah nonton Twilight deh. Apaan banget sih gw, kok malah bahas si ganteng yg bukan siapa-siapa gw. Kan gw mau bahas passport baru gw. Cie..yg baru punya passport. Ndesooo!!

Okeh. Lanjut. Intinya disini itu gw mau berbagi sama lo semua yang lagi gak sengaja mampir di blog gw atau yang emang bener-bener niat lagi pada mau bikin passport tanpa calo dengan berusaha sekuat tenaga mencari gimana cara-caranya di search engine atau yang lebih kita kenal dengan sebutan "Mbah Google". Coz, asal kalian tau, sebelum gw nekat pergi ke imigrasi dan ngurus sendiri, gw juga searching dulu. Alasannya sih biar gw gak kena tipu si calo atau biro jasa deh. Well, This is it. 

Jujur dari lubuk hati gw yang paling dalem dan demi apaan aja deh, ngurus sendiri itu lebih murah biayanya ketimbang diurusin sama calo atau biro jasa (yaealahhh, namanya juga diurusin orang lain, pasti lebih mahal #plakk). Tapi yah yang namanya ngurus sendiri itu sih agak ribet. Eh, gak ribet ding, cuma aja antrian di imigrasinya itu emng bener-bener bikin mati gaya. Tiap hari ada aja yang datang dan ngantri di Kantor Imigrasi. Entah ngapain gw juga gak paham. Yang gw paham tiap hari ANTRI. So,Budayakan Antri. What?? Mulai ngawur nih gw.

Well, jadi gini caranya ngurus sendiri, simak ya (Kantor Imigrasi Kelas I Bandung):
  1. Lo dateng aja langsung ke kantor imigrasi sepagi-paginya, sebelum pukul 08.00. Plis ya, ditahap ini jangan lo tunjukin tampang lo yang gak tau apa-apa. Masalahnya di depan kator imigrasi banyak banget calo atau biro jasa yang beredar. Daripada tampang bego lo ketangkep basah para calo dan biro jasa, mending lo langsung ke koperasi beli map kuning, sampul passport, dan materai 6000. Harganya Rp 10.000,00 dan materainya Rp 7.000,00. Jadi totalnya Rp 17.000,00
  2. Ambil formulir dan surat pernyataan di loket pengambilan formulir disamping kiri pintu masuk kantor imigrasi dan tunjukan map kuning plus sampul passport yang sudah dibeli di kopersi tadi. Katanya sih formulir dan surat pernyataannya gratis, tapi kalau mau ambil formulir dan surat pernyataan harus tunjukin map kuning dan sampul passport. Jadi maksudnya? Yasudahlah...Tunjkin aja. hehe..^_^
  3. Tahap ini sih terserah kalian. Kalian boleh isi formulir dan surat pernyataan langsung pada saat itu juga atau besoknya, besoknya, dan besoknya lagi. Tapi kalau kata gw sih mending isi langsung di tempat pada saat itu juga. Itu pun kalau lo mau cepet punya passport. Nah, kalau mau isi form pada saat itu juga, sebelum ke kantor imigrasi kalian harus siapin dokumen-dokumen yang penting, yaitu: Photocopy beserta aslinya Akte LahirKartu Keluarga (KK)KTP (Terserah KTP daerah mana aja), dan Ijazah SMA. Dokumen-dokumen ini sih buat yang masih berstatus pelajar diatas 17 tahun dan mahasiswa. Kalau diluar itu, maaf gw kurang tau. Peace... 
  4. Kalau sudah beres isi form dan yakin, langsung aja lo ambil nomer antrian. Lo minta aja ke Pak Satpam. Silakan duduk dan tunggu nomer antrian lo muncul di layar. 
  5. Ketika nomer antrian lo muncul, lo langsung aja serahin semua map kuning yang berisi dokumen-dokumen penting itu tadi dan nomer antrian lo. Setelah dokumen lo di cek petugas dan dirasa cukup, si petugas ngasih lo tanda terima permohonan. Kertas kecil gitu sih. Disitu ditulis kapan lo diharap menghadap kembali. Menghadap itu untuk bayar administrasi Rp 255.000,00, foto dan wawancara.
  6. Ditanggal yang sudah ditetapkan (gw sih sekitar 3 hari setelah ngasih dokumen-dokumen), lo balik lagi. Jangan lupa bawa tanda terima permohonan. Sebisa mungkin lo datang sepagi-paginya. Biar antrian lo gak lama. Ya sebelum pukul 08.00 lah lo datang ke kantor imigrasi.
  7. Langsung aja ke Pak Satpam yang berdiri didekat pintu masuk dan minta nomer antrian untuk pembayaran. Silakan duduk dan tunggu sampai nomer antrian lo muncul dilayar.
  8. Kalau nomer antrian lo sudah muncul, langsung aja ke kasir serahkan nomer antrian dan tanda terima permohonan yang kemarin. Tunggu beberpa menit dan nama lo akan dipanggil lagi untuk bayar.
  9. Setelah tahap 8 selesai, lo tunggu aja untuk dipanggil foto dan wawancara. Foto gak boleh pakai lensa kontak atau kacamata. Kalau wawancaranya sih gak kaya wawancara kerja kok. Biasa aja. Palingan ditanya mau pergi kemana? That's it.
  10. Selesai foto dan wawancara, si petugas akan ngasih lo selembar tanda pengambilan passport yang tertera kapan lo bisa ngambil passport-nya. Kalau gw sih 5 hari setelah gw foto dan wawancara. 
  11. Sesuai tanggal pengambilan yang telah ditetapkan, lo balik lagi ke kantor imigrasi dan jangan lupa bawa lembar tanda pengambilan passport. Tapi kalau tahap ini sih lo ga dituntut untuk datang pagi-pagi. Karena untuk pengambilan passport dibuka pukul 13.00-16.00, khusus untuk pengambilan passport aja loh...
  12. Langsung ke loket pengambilan dan tancepin tanda pengambilan passport. Tunggu sampai nama lo dipanggil. Terus tanda tangan pengambilan. Dan akhirnya...jeng jeng...Lo punya passport!!!
Nah, gampang kan? Selain itu murah juga ngurus sendiri. Cuma Rp 10.000,00+Rp 7.000,00+Rp 255.000,00 = Rp 272.000,00. Kalau ada biaya diluar itu, gw gak tanggung jawab. Ini gak termasuk biaya parkir motor/mobil, biaya lo ngangkot sampai ke kantor imigrasi, biaya bensin motor/mobil lo, biaya makan lo, dll :)

Ok, Selamat Mencoba. Good luck!!!

Minggu, 26 Agustus 2012

Sambutan Hujan di Hat Yai


Tidak ada banyak hal yang bisa saya ceritakan tentang Hat Yai karena ini kali pertama saya mengijakan kaki di Hat Yai yang hanya dalam waktu beberapa jam saja. Memang benar seperti yang dikatakan banyak orang  tentang 10 Baht di dalam paspor. Di kota ini saya mengalami hal yang sama. Sopir minivan yang saya tumpangi meminta para penumpang untuk menyelipkan 10 Baht di dalam paspor. Tanpa banyak bertanya, saya lakukan saja sesuai permintaan sang sopir. Lagipula percuma saya bertanya. Si sopir tidak bisa berbahasa Inggris dan saya tidak bisa berbahasa Thailand.

Di imigrasi Thailand, saya melihat dua antrian yang lumayan panjang di pos berbeda. Saya jadi agak deg-degan saat mengantri. Terlihat diantrian yang paling depan seorang bule perempuan yang ditanya-tanya cukup lama oleh petugas. Entah ditanya apa saya kurang tahu. Ketika tiba giliran saya, saya pun komat-kamit berdoa agar diberi kemudahan. Saking takutnya. Setelah beberapa menit petugas memeriksa paspor saya, akhirnya paspor saya nambah satu cap stempel lagi dan petugas mengembalikan paspor saya sambil tersenyum. Alhamdulillah, ternyata gampang dan tidak lama bagi saya untuk mendapatkan ijin masuk negara Thailand :)

Beres urusan migrasi, minivan yang saya tumpangi pun melaju menuju kota Hat Yai. Sepanjang perjalanan ditemani dengan hujan yang lumayan deras, di pingggir jalan saya melihat banyak tempat makan yang berlabel halal dengan simbol bulan dan bintang. Sering juga saya menjumpai perempuan-perempuan berjilbab disini. Penumpang yang duduk di depan saya pun perempuan berjilbab. Dan kalau saya dengar dari  percakapan dia dan laki-laki disampingnya-suaminya-sepertinya mereka orang Thailand. 

Sekian lama saya menunggu, minivan saya belum sampai juga di kota Hat Yai. Karena saya merasa bosan diperjalanan, sesekali saya memutar playlist yang ada di ponsel saya, sesekali saya mengobrol dan bercanda dengan travelmates saya. Tak terasa tiba juga di kota Hat Yai tepat pukul 07.00 PM waktu setempat. Sopir minivan saya langsung menurunkan saya di depan counter tiket bus. Sesuai permintaan saya dan travelmates saya. Sebelum berangkat ke Hat Yai, kami meminta sopir untuk menurunkan kami di tempat yang menyediakan tiket bus ke Krabi. Walaupun beliau tidak begitu paham English, tapi untung saja beliau mengerti maksud kami. Karena hujan yang cukup deras, seegera kami berlari ke counter tersebut.  

Big bus yang akan mengantar kami ke Krabi pun akhirnya datang. Langsung saja kami masuk ke bus dan mencari nomer kursi yang tertera ditiket. Salah satu travelmates saya, Gitya, merasa sial saat itu. Dia mendapatkan kursi bus yang basah karena tetesan air dari AC. Mencoba berpindah ke kursi belakang, ternyata nasib kursi belakang sama saja. Basah. Dengan terpaksa dan tidak ada pilihan lain, akhirnya dia duduk di kursi tersebut.

Tepat di belakang saya, ada seorang laki-laki bule ganteng dengan memakai t-shirt bewarna hijau daun dan rambut agak sedikit plontos. Sebenarnya agak sedikit kurang jelas sih saya melihat dia karena malam dan lampu di bus tidak terlalu terang bagi saya. Saya tebak usianya sekitar 27 tahun. Tak sengaja saya melihat ke  belakang dan dia pun melempar senyum ke arah saya. Seramah mungkin saya membalas senyumnya. Dengan iseng saya menantang seorang travelmates saya, Dini, yang duduk disamping saya. Kebetulan dia termasuk bule lovers.

"Tuh ada bule ganteng di belakang gw," tangan saya sengaja menyikut tangan Dini.
"Iya ganteng, mana dia tadi senyum-senyum mulu ke gw," katanya pede.
"Berani gak lo nyapa dia? Lo tanya aja, do you want to go to Krabi? Berani ga?" saya mengajukan tantangan.

Tanpa menjawab tantangan saya, Dini langsung saja nyelonong menyapa si bule yang tak berdosa itu. Alhasil terjadilah obrolan singkat antara saya, Dini, Gitya, dan si bule. Setelah berkenalan dan ngobrol ngalor-ngidul dengan si bule, akhirnya kami tahu siapa namanya dan darimana asalnya. Namanya Dan, asal London. Tak berapa lama, obrolan kami pun berhenti karena suhu AC di bus sudah mulai mendingin dan hujan di luar tak kunjung reda. Menambah suhu semakin bertambah dingin. Masing-masing kami mengenakan selimut yang disediakan di bus. Ditemani dengan alunan lagu Thailand yang mendayu-dayu, kami pun akhirnya terlelap juga.